Aku Berbeda
Lifestyle,  Personal

Aku Berbeda

Iya, kalian nggak salah membacanya. Aku memang nggak suka disamakan dengan orang lain. Aku memilih berbeda.

Aku ingat betul, dulu aku sering dibanding-bandingkan dengan salah satu sepupuku yang kebetulan berotak encer. Orang tuaku memang ingin anak-anaknya berprestasi di bidang akademik. Padahal, kemampuan otakku biasa-biasa saja dalam menyerap materi pelajaran.

Pengalaman paling pahit adalah ketika bapak merobek hasil tesku. Reaksiku waktu itu ya kalian bayangan sendiri saja ya. Aku yang masih kelas 3 atau 4 SD yang udah siap dimarahin nih, sebenernya, gara-gara dapat nilai jelek, eh ternyata mendapat reaksi lebih ekstrem.

Aku sempat frustasi tuh dulu. Aku juga pengen seperti sepupuku yang pintar, atau teman-temanku yang mendapat rangking bagus. Nilai selalu bagus dan yang pasti, memuaskan orang tua. Tapi, mau aku belajar sekeras apapun juga, aku nggak bisa menyamai mereka.

Untungnya, setelahnya orang tuaku lebih legowo menerima kemampuan anaknya ini yang biasa-biasa saja. Aku juga nggak pernah share lagi nilai-nilaiku, kecuali saat pengambilan raport. Trauma bo kalau-kalau dapat reaksi seperti dulu.

Tapi, legowo-nya orang tuaku ya tetap menyimpan obsesi yang nggak bisa kesampaian, yakni menjadikanku seorang dokter. Lagi-lagi, ini dipengaruhi oleh sepupuku yang pintar dan berhasil menjadi dokter. Sekarang, keinginannya itu beralih ke calon cucunya yang selalu didoakan menjadi dokter. Aku sih mengamini saja ya. Sambil dalam hati mikir, mau jadi apa saja juga nggak masalah.

Aku Berbeda

Dulu, aku sering berpikir menjadi berbeda itu nggak menyenangkan. Seringnya karena dibanding-bandingkan itu. Seolah-olah aku dan keinginanku salah jika nggak mengikuti jejak mereka, terutama yang sudah sukses dan berhasil.

Namun seiring bertambahnya kedewasaanku, aku sadar jika nggak ada gunanya membanding-bandingkan. Yah, memang sih bisa memunculkan motivasi. Sayangnya, motivasi seperti ini biasanya didasari oleh keinginan untuk mendapat pengakuan dari orang lain.

Setiap individu itu berbeda. Kembar identik saja pasti berbeda, apalagi yang nggak ada hubungan darah sama sekali? Bukan hanya dari segi fisik, melainkan dalam segala hal.

Masalahnya, apakah kita memahami perbedaan itu? Sering sekali, aku melihat orang-orang yang suka menghakimi atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Apalagi, di  dunia yang serba anonim alias dunia maya, tangan netizen sama kejamnya dengan mulut mereka. Bahkan, mungkin lebih kejam.

Heran saja sih, standar siapakah yang mereka pakai untuk melakukan itu? Kalau standar pribadi masing-masing orang ya itu sama saja menuntut si korban untuk menjadi sama seperti mereka. That’s impossible!

Bisa dibayangkan bagaimana dunia ini jika diisi oleh orang-orang yang sama? Nggak ada istilah orang baik dong karena semua orang itu baik, atau justru semuanya nggak baik (?). Putih nggak akan disebut putih bila menjadi satu-satunya warna di dunia ini.

Aku Berbeda

Berbeda, sebenarnya, bukan merupakan pilihan karena pada hakikatnya, masing-masing individu memang berbeda. Hanya saja, sedikit yang berani memahami, menghargai, dan mengakui perbedaan itu dan berkata, “Aku berbeda!”

Aku bangga disebut berbeda dan aku nggak ingin menjadikan perbedaan sebagai penghalang. Ingat, berbeda itu indah.

10 Komentar

  • Sabda Awal

    setiap orang punya kemampuan yang berbeda, ga mungkin sama. Mungkin si sepupu betul prestasi di akademik. Nah, bisa jadi kan kita di seni, sosial, atau lainnya.

    Jadi ingat, bahwa jika semua orang sama, apa yang menarik di dunia ini?

    tapi maaf ya mbak, saya sebel karakter seperti ortunya mbak, sampe ke cucu juga di doain jadi dokter. ini pemaksaan sih.

    • shimisunn

      Haha, iya mas. Saya sendiri juga heran lho sama obsesi ortu saya. Kayaknya sih ortu ngelihatnya jadi dokter itu enak, bisa bantu orang dan tentu gajinya gede. Tapi, saya sendiri ngelihatnya malah kasihan. Sering lihat sepupu saya ketiduran di kursi karena kecapekan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *