Lifestyle,  Personal

Bau Hujan

Kalian tahu, apa yang kusukai dari hujan? Selain bunyinya yang menenangkan, bau yang diciptakannya pun memiliki ciri khas tersendiri.

Perpaduan antara tetesan air hujan yang jatuh ke tanah, membuat bau tanah menguar ke mana-mana. Ups, bau tanah di sini bukan idiom ya, melainkan dalam arti sebenarnya: aroma tanah yang sudah bercampur dengan air. Nggak salah memang, jika hal ini menjadi salah satu hal yang mereka rindukan dari hujan.

Hujan sendiri nggak memiliki bau yang istimewa karena hanya berupa tetesan-tetesan air. Namun, udara yang dingin ditambah dengan aroma tanahβ€”aku ingin mengatakan kombinasi dua hal tersebut sebagai bau hujan. Kalian boleh nggak setuju dengan pendapatku dan itu sah-sah saja. Begitu pun denganku yang nggak ada larangan untuk menyebutnya sebagai bau hujan.

Aku senang menghidu bau hujan. Rasa nyaman dan tenang lah yang aku tunggu tiap kali aroma itu masuk ke indra penciumanku. Terlebih, di musim kemarau yang nyaris tanpa hujan. Bau itu benar-benar aku rindukan.

Bau hujan sering sekali membuat pikiranku berkelana. Terkadang masih di tempat yang sama sembari mengamati segala hal yang berada dalam jarak pandangku. Indah. Di saat seperti ini lah rasa syukur selalu aku dengungkan dalam hati bila melihat hasil ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa.

Terkadang pula pikiranku dibawa jauh ke depan. Sambil menyesap cokelat panas, berbagai pertanyaan berlalu-lalang di kepalaku. Akan jadi seperti apa nantinya aku di masa depan? Akankah aku tetap bisa menikmati ketenangan seperti ini? Ataukah aku akan menjadi orang sibuk yang bahkan lupa untuk menenangkan diri?

Namun, tak jarang pikiranku dibawa melintasi waktu dan kembali ke masa lalu. Mungkin di masa SMA dengan situasi serupa, namun dengan pemikiran yang jauh berbeda. Aku yakin, kala itu pasti aku mengharapkan hujan segera reda. Apa lagi? Bagiku yang masih labil, hujan merupakan salah satu penghambat aktivitasku. Ketidaksukaan bahkan sudah aku tunjukkan begitu melihat awan gelap yang bergelantungan di langit.

Tapi, jika ingatanku berkelana ke masa SMP, aku akan ingat betapa polosnya aku saat itu. Berada di tengah lingkungan pertemanan yang solid, rasanya sudah cukup bagiku yang masih berseragam putih-biru. Terlebih ada dia. Dia yang bisa membuatku senang akan keberadaan hujan karena itu artinya aku mempunyai waktu lebih lama melihatnya. Haha. Betapa naif diriku!

Dan di hujan pertama di penghujung musim kemarau ini, bau hujan membawaku sejenak untuk menikmati kehadirannya; mendengarkan alunan hujan dan menghirup bau yang tercipta. Kemudian, pikiranku dengan santainya terbang ke mana-mana.

Masa lalu, masa kini, dan masa depan bercampur aduk di dalam otakku hingga aku sendiri bingung dibuatnya. Aku nggak bisa memikirkan ketiganya secara bersamaan. Maka, aku memilih mengosongkan semuanya dan menikmati apa yang sedang terjadi saat ini.

Ah, apa itu artinya aku lebih memilih masa kini? Ya. Dibandingkan hujan kemarin atau prakiraan hujan di hari esok, aku lebih menyukai hujan di hari ini. Bau hujan lebih bisa aku rasakan dan dapat menyadarkanku bahwa aku sedang hidup di masa ini.

10 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *