Belajar Berkata Tidak
Lifestyle,  Personal

Belajar Berkata Tidak

Ketika ‘tidak’ merupakan kata tersulit untuk diucapkan, maka belajar mengatakannya, agaknya, menjadi sebuah keharusan. Kenapa? Karena nggak selamanya ‘ya’ itu baik.

Kalian mungkin nggak percaya dengan pendapatku di atas. Bagaimana bisa meng-iya-kan ucapan orang lain adalah perbuatan yang nggak baik? Bukankah menyenangkan dan menolong mereka akan memberikan dampak yang positif?

Ya, bagi mereka. Namun nggak, bagi diri kalian sendiri.

Pernah dengar tentang people pleaser? People pleaser adalah orang-orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain tanpa mengindahkan kepentingan dirinya sendiri. Dan mereka yang selalu berkata ‘ya’ otomatis menjadi bagian dari orang-orang ini.

Mungkin, kultur masyarakat Indonesia yang segan menolak menjadikan kebiasaan ini melekat pada kepribadian warganya. Nggak semua, tentu saja. Lingkungan di mana kalian hidup memiliki pengaruh yang kuat, terutama keluarga.

Aku pernah menjadi bagian dari orang-orang tersebut. Mungkin, masih hingga sekarang karena ternyata sulit merubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun kulakukan. Tantangan yang kuhadapi pun nggak mudah.

Belajar Berkata Tidak

Dapat dikatakan, dulunya, aku adalah pribadi yang penurut dan nggak ingin mengecewakan orang lain. Aku juga sensitif dan sangat-sangat memperhatikan pendapat orang lain tentangku. Jelas, aku nggak ingin mendapat image negatif dari mereka.

Dan itu semua membuatku frustrasi. Sering kali aku mengabaikan suara hatiku dengan mengatakan ya untuk hampir semua ajakan yang kuperoleh. Hati kecilku ingin menolak. Tetapi, mulut nggak mau sinkron dan justru meng-iya-kan perkataan mereka.

Aku pernah di situasi yang aku benar-benar marah, namun nggak bisa aku ungkapkan. Kekecewaan yang kurasakan pun hanya bisa kusimpan dalam hati. Lebih buruk, aku nggak pernah secara gamblang mengatakan keinginanku.

Aku merasa kosong. Terlalu mengikuti keinginan orang lain ternyata membuatku kehilangan arah. Aku jadi nggak tahu apa yang benar-benar ingin kulakukan. I lost myself.

Titik baliknya adalah saat ada seorang sahabat dekatku yang mau stand up for saying no for me. Saat itu, aku masih melakukan kegiatan KKN dan dia membantuku menolak ajakan teman KKN-ku yang lain yang memintaku membantunya. I really thanked her for doing that. Belum pernah ada orang yang melakukan hal seperti ini untukku.

Mulai saat itu, aku bertekad untuk merubah diriku. Aku belajar mengatakan ‘tidak’ dan juga lebih aktif untuk mengungkapkan ide atau isi pikiran. Dan proses itu masih berlangsung hingga saat ini.

Belajar Berkata Tidak

Dalam hubungan pertemanan, aku nggak menemui masalah karena aku memang cenderung berteman dengan orang-orang yang sepemikiran denganku. Maksudnya, mereka yang menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Hal ini penting banget karena aku juga ingin didengar.

Yang sulit adalah dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Orang tua masih enggan menerima penolakan dan pendapatku. Padahal, aku sudah bukan remaja yang harus selalu didikte oleh mereka. Aku bisa mengambil keputusan sendiri dengan pertimbangan baik-buruknya.

Aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku. Namun, nggak ada yang tahu mana yang terbaik untukku selain diriku sendiri, kan? Bukan bermaksud egois. Aku tetap mempertimbangkan pendapat mereka. Hanya saja, keputusan akhir tetap ada di tanganku.

Hufth. Hal tersebut memang menjadi tantangan terberat bagiku untuk berubah. Ketika aku sudah mulai nyaman dengan perubahan ini, suatu keadaan memaksaku kembali pada diriku yang dulu. Sudah berusaha untuk menolak, tapi ternyata nggak mempan. Mereka memberikan berbagai alasan yang mau nggak mau memaksaku berkata ‘ya’.

Apakah image penurutku nggak bisa diubah? Masalahnya aku adalah seorang introvert yang kalian tahu sendiri bagaimana sifat-sifatnya. Dan mungkin, ada beberapa karakter introvert yang memberi kesan penurut sehingga image itu enggan hilang dariku. Entahlah.

Yang pasti, aku nggak akan berhenti untuk belajar bersuara. Aku mau mendengarkan mereka. Harusnya mereka juga mau mendengarkanku. Betul?

—–

Selamat tahun baru ya, teman-teman. Semoga tahun 2020 menjadi tahun yang lebih baik dari tahun kemarin. Oh ya, sudah buat resolusi untuk tahun baru? Kalau belum, kalian bisa baca Tips Membuat Resolusi Untuk Tahun Baru.

Belajar Berkata Tidak

4 Komentar

  • Ikrom

    Halo mbak salam kenal
    apa yang mbak alami pernah juga saya alami
    betapa sulitnya untuk berkata tidak
    saat itu saya bekerja di sebuah instansi berstatus honorer
    apesnya, saya malah jadi bulan-bulanan rekan yang memanfaatkan saya
    pada akhirnya saya harus menyudahi bekerja di sana

    memang sulit mengatakan tidak
    tapi ini demi kebaikan

    • shimisunn

      Salam kenal juga mas.
      Iya, itulah kenapa nggak baik mengiyakan terus. Harus tahu kondisi diri juga.
      Thanks udah sharing kisahnya πŸ˜€

  • Nisa.M

    Ini menjadi salah satu daftar resolusi yg udah aku buat untuk tahun ini. Aku juga introvert mba! Dan mengalami hal yg sama dengan mba. Bener2 menyiksa, karena aku merasa ada perang batin sendiri. Semoga di masa yg akan datang bisa lebih baik ya mba~ nice content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *