Bucin
Lifestyle,  Personal

Bucin

Bucin, salah satu istilah kekinian yang baru aku tahu kepanjangannya, yakni budak cinta. Bucin merupakan kata yang selalu diidentikkan kaum milenial atau lebih tepatnya gen z kepada orang-orang yang menomorsatukan urusan cinta (cenderung berlebihan). Iya nggak sih begitu maksudnya?

Aku memang kudet untuk hal-hal seperti ini. Justru awalnya, aku pikir bucin itu buta cinta. Maklum, istilah itu terdengar lebih familiar untukku dan kalau disingkat kan jadinya bucin juga. Hehe.

Lantas, apa bedanya? Aku coba uraikan ya.

Budak cinta berasal dari kata budak dan cinta. Dalam KBBI, budak memiliki arti, yaitu anak-anak dan antek atau hamba. Tentu, yang dimaksud di sini bukan anak-anak ya, melainkan antek atau hamba. Kalian pasti tahu dong kalau antek merupakan pesuruh yang setia dan patuh pada tuannya.

Seperti itulah budak cinta. Mereka rela melakukan apa saja demi cinta. Mirip lirik lagu ya. Kulakukan apapun demi cinta. Wkwk. Padahal nggak tahu, beneran ada lirik lagu seperti itu atau nggak.

Lalu, apa saja yang dilakukan si bucin ini? Banyak. Contoh paling kentara adalah selalu nempel dengan si doi. Kemana-mana penginnya sama dia sampai-sampai melupakan fakta bahwa nggak hanya ada dia di hidupnya.

Bucin

Mungkin, kehidupan si bucin ini dan pasangannya akan baik-baik saja. Apalagi, kalau ternyata si pasangan juga bucin. Wah, cocok. Sama-sama nyebelinnya.

Iya, nyebelin. Para bucin mungkin nggak sadar jika yang dilakukannya sudah membuat naik emosi orang-orang dalam lingkup kehidupannya. Sudah diingatkan, tapi nggak mempan. Siapa sih yang suka diabaikan?

Nah, kalau buta cinta juga terdiri dari dua kata, yakni buta dan cinta. Dalam KBBI, buta artinya tidak dapat melihat karena rusak matanya atau tidak tahu (mengerti) sedikit pun tentang sesuatu. Hmm, jadi bingung mana arti yang pas untuk buta cinta?

Barangkali, keduanya; nggak bisa melihat (bukan tentang fisik) karena disilaukan oleh cinta dan nggak mengerti arti cinta yang baik itu seperti apa. Wah, sok banget ya ngomongnya. Haha.

Oke, lanjut.

Karena dibutakan oleh cinta, orang-orang ini nggak akan berpikiran jernih lagi. Yang salah bisa menjadi benar, begitu pun sebaliknya. Misalnya, menutup mata akan kejelekan pasangan.

Memang, nggak ada manusia yang sempurna. Tapi, kalau sifat jelek itu terus-terusan dibiarkan dan malah merugikan, ya sebaiknya tinggalkan saja. Jangan mencari pembenaran untuk hal-hal seperti ini dengan dalih cinta.

Bucin

Dulu, pernah ada teman kost yang jadi korban kekerasan dalam pacaran. Dia tahu, situasi itu salah. Namun, dia memilih bertahan dengan dalih cinta. Sampai, dia percaya pada seseorang yang membantunya keluar dari keadaan tersebut.

Istilah budak cinta, jujur, membuat sedikit rancu makna buta cinta yang kupahami. Bukankah perilaku budak cinta juga tergolong ke buta cinta ya? Nggak perlu dong ada istilah bucin segala?

Memang. Orang-orang masa kini saja yang suka memunculkan istilah-istilah baru. Biar makin kekinian, mungkin.

Namun, untuk lebih memperjelas batas antar dua bucin di atas, aku sih menganggap level budak cinta masih nggak seberat buta cinta. Budak cinta mungkin hanya terobsesi saja untuk selalu bersama si pasangan dan menyenangkan pasangan dan juga dirinya.

Sedangkan buta cinta, sudah parah. Nggak ada benar salah di sini. Mereka bahkan nggak segan memaksakan kehendaknya pada si pasangan.

Bucin

Cinta yang baik itu nggak bucin, baik itu menjadi budak cinta atau buta cinta. Cinta yang bisa membuat sisi emosi aktif dan bahagia, namun tetap ada logika di sana. Cinta yang bisa menghargai pasangan masing-masing sekaligus kehidupan, hak, dan privasinya.

Apalagi ya? Hmm.. Boleh dong minta usulannya tentang cinta yang baik versi kalian.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *