Cerita Perjalananku
Travel

Cerita Perjalananku

Perjalanan cukup panjang yang sering kulakukan adalah perjalanan pulang ke rumah. Kenapa aku bilang cukup panjang? Itu karena jarak tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar 5 jam menggunakan bus.

Mungkin, ada yang merasa 5 jam merupakan waktu tempuh yang lama. Yah, relatif sih. Untuk orang yang sering melakukan perjalanan tersebut, 5 jam bukanlah apa-apa.

Terlebih, aku adalah tipe orang yang sangat menikmati perjalanan. Waktu-waktu ini sering aku gunakan untuk merelaksasikan pikiran sembari melihat pemandangan sepanjang jalan.

Apa nggak bosan? Nggak juga.

Contohnya, perjalanan pulang kemarin. Sebenarnya, kalau mau, aku bisa mengobrol dengan orang yang duduk di sebelahku karena kebetulan kami berdua akan turun di kota yang sama. Bagaimana aku tahu? Sewaktu ditanya kondektur bus, kami menyebutkan kota tujuan yang sama.

Hal itu pulalah yang sempat menjadi topik pembicaraan. Pertanyaan umum sih, seperti asal darimana dan apa yang dilakukan di Yogyakarta.

Jika ditanya begitu, biasanya aku akan jawab sesuai mood-ku saat itu. Nggak pernah benar-benar jujur, karena buat apa? Toh, aku nggak akan ketemu lagi dengan mereka. Dan aku juga nggak mau sembarangan memberi tahu informasi pribadiku.

Tenang, obrolanku berhenti sampai di situ kok. Dia memutuskan untuk tidur, sedangkan aku memilih mendengarkan podcast. Terkadang aku juga memejamkan mata dan mencoba untuk tidur, meski nggak bisa.

Cerita Perjalananku

Baru satu jam perjalanan, orang di sebelahku terbangun karena suara berisik dari pengamen yang masuk ke dalam bus saat busnya berhenti selama beberapa menit di sebuah terminal. Aku saja terganggu. Pakai volume full masih nggak kedengaran podcast-nya. Hmm.

Akhirnya, aku melepas earphone dan berencana akan tidur di sisa perjalanan nanti. Tapi nyatanya, aku nggak bisa tidur sama sekali. Pun dengan orang di sebelahku yang sama-sama terjaga sampai di kota tujuan.

Namun, aku dan dia ternyata sepemikiran untuk nggak memulai obrolan lagi. Dia sibuk dengan urusannya bersama ponselnya. Sementara aku, asyik melihat jalan.

Sebagai teman perjalanan, sang kondektur bus pun memutar lagu-lagu sendu. Dengan cuaca mendung dan hujan, pas sekali untuk bernostalgia dengan masa lalu. Tapi ya itu, bawaannya mellow, seperti lagunya. Hehe.

Duh, jadi teringat si dia deh. Dia siapa ya? Hmm ya, pokoknya dia dari masa laluku. Wkwk.

Acara nostalgiaku mulai terganggu dengan dingin yang makin lama semakin terasa. Padahal aku sudah memakai jaket tebal. Namun, tetap saja dinginnya menusuk kulit.

Beginilah derita orang yang nggak tahan dingin. Berada di ruangan atau bus ber-AC di musim hujan adalah kelemahanku. Tangan dan kaki yang paling merasakan efeknya karena biasanya akan berubah dingin. Beruntung, kalau aku nggak sampai menggigil.

Untungnya pula, hujan mulai reda di setengah sisa perjalanan. Meski dingin, tapi dinginnya masih bisa kutahan. Tinggal menyembunyikan tangan di balik saku jaket dan memangku tas untuk sedikit menghalau udara dingin di kakiku.

Itulah cerita singkat perjalanan yang kulakukan beberapa hari lalu. Bukan cerita yang istimewa, namun aku cukup menikmatinya.

Cerita Perjalananku

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *