Limbah Pakaian
Fashion,  Lifestyle

Limbah Pakaian

Kapan terakhir kali kalian membeli pakaian? Tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu, atau justru satu hari lalu alias kemarin?

Inovasi dalam bidang fashion memang sangat cepat. Beberapa brand baru bermunculan dan bergabung dengan industri yang nggak pernah mati ini. Berbagai jenis pakaian dibuat, mengikuti trend yang sedang diminati.

Tag harga yang murah, tentu, membangunkan sisi konsumtif kita. Tanpa memikirkan kualitas, kita membeli baju-baju tersebut yang memang sesuai dengan trend masa kini. Biar terlihat selalu update.

Tapi, tahukah kalian? Perilaku tersebut sangat-sangat nggak bagus untuk diri kalian sendiri dan lingkungan. Kok bisa?

Coba ingat-ingat, berapa banyak pakaian yang ada dalam lemari kalian? Ada berapa yang sering atau masih kalian pakai? Dan, berapa yang sudah nggak pernah keluar dari lemari hingga bahkan kalian lupa akan keberadaannya?

Aku yakin, ada lebih banyak pakaian yang nggak terpakai lagi. Entah karena modelnya sudah nggak sesuai dengan trend sekarang atau bahannya yang sudah nggak bagus lagi. Dan baju-baju tersebut akan berakhir untuk dibuang atau didonasikan (kalau masih layak).

Itu baru dari satu orang saja ya. Bayangkan, jika seluruh masyarakan Indonesia melakukan hal yang sama? Nggak ada tempat yang bisa menampung seluruh pakaian tersebut. Akhirnya, semua baju-baju nggak bertuan itu hanya akan menjadi limbah.

Maka, tepat bila ada yang mengatakan bahwa limbah pakaian menyumbang persentase cukup besar dalam kerusakan lingkungan. Limbah di sini nggak hanya mengacu pada pakaian jadi saja, melainkan seluruh proses yang dibutuhkan untuk membuat baju-baju tersebut.

Aku nggak bisa membahas tentang proses pembuatan pakaian karena aku nggak paham di bidang itu. Namun sebagai konsumen, aku, tentunya, menggarisbawahi limbah pakaian yang kuhasilkan. Aku belum pernah membongkar seluruh isi lemariku. Tapi aku yakin, ada banyak pakaian yang sudah nggak terpakai lagi.

Limbah Pakaian

Walaupun aku menyukai fashion, aku bukan orang yang impulsif dalam urusan berbelanja. Baju terbaru yang masuk ke dalam koleksiku adalah seragam nikahan yang dibuat akhir tahun lalu. Namun terakhir kali belanja baju, sekitar bulan-bulan awal tahun 2019. Itu pun aku membelinya sebagai hadiah ulang tahun untuk diriku sendiri. Hehe.

Jumlahnya juga nggak banyak kok. Nggak lebih dari lima item. Memang banyak barang yang menggoda mata. Tapi, aku sudah bertekad untuk nggak gampang tergoda dan benar-benar memilih apa yang akan kubeli.

Untungnya, aku bukan termasuk orang yang gampang terpengaruh trend. Seru sih jika bisa ikut meramaikan trend yang sedang booming. Tapi, membeli barang-barang yang sedang viral hanya akan menguras isi dompet. Dan, belum pasti trend itu akan bertahan lama, bukan?

Aku sudah tahu style berpakaian apa saja yang sesuai preferensiku dan cocok untukku. Jadi, biasanya aku hanya akan menjadikan OOTD yang sedang hits sebagai inspirasi. Kemudian, aku bereksperimen dengan koleksi pakaianku dan mencoba menduplikasi look tersebut.

Di tahun ini, aku belum tahu akan ada berapa item baru yang masuk ke dalam lemariku. Masih awal tahun juga dan belum kepikiran buat belanja.

Kalau pun ada kesempatan membeli pakaian baru, aku akan memilih barang-barang yang timeless. Tipe pakaian seperti ini memang terlihat nggak terlalu mengikuti trend karena biasanya modelnya sangat basic. Namun, item timeless akan bertahan lebih lama dan memiliki kecenderungan untuk cocok dipadankan di hampir semua style fashion.

Terlebih, bila item itu memiliki kualitas bagus. Nggak hanya bertahan dua atau tiga tahun, tapi bisa digunakan dua dekade lagi. Bukankah cara ini bisa lebih menghemat budget? Kita jadi nggak sering membeli baju baru karena pakaian lama masih layak banget dipakai.

Paling penting, limbah pakaian yang dihasilkan pun menjadi lebih sedikit. Dan akhirnya, kita bisa berkontribusi dalam menjaga lingkungan, walaupun kecil.

Jadi, bijaklah sebelum membeli!

Limbah Pakaian

6 Komentar

  • untari

    kalo soal baju walaupun di lemariku banyak baju tapi sebagiannya ga beli sendiri, banyak yang dapet dari kantor suami, aad juga yang endorse. itu awet-awet banget kalo ga kucel sobek-sobek ya masih dipake. nah kalau yang kekecilan tapi masih layak pakai biasanya ku lungsurkan ke art. bener-bener ga impulsif aku sama baju. impulsifnya ama makanan. haha

    • shimisunn

      Haha makanannya. Untungnya sih aku gak begitu impulsif juga sama makanan. Cuma kalau lagi datang masa pengen ngemil terus, ya boros juga. pengen coba ini itu soalnya XD

  • Prima

    Terakhir saya beres-beres, baju-baju saya ada hmm….sekitar 20-an (termasuk celana, baju kerja dan baju rumah). Maklum, kontraktor…jadi kalau nyimpen baju banyak-banyak itu nyusahin diri sendiri pas pindah kontrakan.

    Ya kalo, kontrakan baru ukurannya lebih lega, kalau lebih shrinked, kan susah jadinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *