Mata Bengkak Karena Alergi
Lifestyle,  Living

Mata Bengkak Karena Alergi

Hmm, sudah setahun berlalu, ternyata.

Aku ingat betul, akhir tahun kemarin hingga bulan-bulan awal di tahun ini, aku harus sibuk bolak-balik ke dokter untuk memeriksakan perihal mataku. Ada benjolan kecil yang muncul dan pernah suatu kali bengkak dan sakit, tentunya.

Aku baru memeriksakannya ketika bengkak itu muncul di salah satu mataku dan menimbulkan nyeri. Aku membawanya ke dokter spesialis mata dan kata dokter, aku mengalami alergi. Aku pun disuruh untuk menghindari makanan penyebab dan yang bisa memperparah alergiku.

Aku mendapat tablet untuk diminum dan salep untuk dioleskan di area mata. Bengkaknya hilang sih tapi masih ada benjolan kecil yang sebenarnya sudah ada sejak sebelum bengkaknya muncul.

Mata Bengkak Karena Alergi

Aku tetap rutin mengoleskan salep yang diresepkan hingga pada suatu hari benjolan di mataku bertambah menjadi tiga. Warnanya juga masih merah pertanda keberadaannya yang masih baru. Mirip jerawat yang baru muncul. Hanya saja ini di mata dan ukurannya sedikit lebih besar.

Nah, berhubung posisiku sudah berada di Jogja (sebelumnya aku periksa di kampung halaman), aku mencari-cari info tentang dokter mata. Sebenarnya, ada rumah sakit khusus mata juga di Jogja. Cuma, kok sepertinya akan lama jika harus ke sana. Pilihanku akhirnya jatuh ke sebuah klinik mata di Jogja.

Aku diperiksa oleh dokter spesialis mata dan lagi-lagi benjol mataku ini disebabkan oleh alergi. Berhubung aku nggak tahu nih punya alergi apa, dokter pun menyuruhku untuk nggak makan telur, kacang, seafood, dan apalagi ya. Maaf, lupa.

Aku juga mendapat tablet minum dan salep. Aku berusaha dong mematuhi anjuran dokter. Eh, baru dua minggu, muncul lagi benjol di mata lainnya. Kali ini mataku dua-duanya kena.

Mata Bengkak Karena Alergi

Balik lagi deh aku ke klinik matanya. Ketemu dokter yang sama dan diresepkan obat yang agak berbeda. Kalau sebelumnya diberi semacam anti alergi, yang kedua ini diberi antibiotik. Katanya, anti alerginya nggak mempan di aku. Haha.

Yang susah, bertambah lagi pantangan untuk dimakan, yakni cokelat. Padahal, cokelat adalah favoritku banget. Huhu.

Kalau nggak salah, aku disuruh balik lagi buat cek. Ya, sekitar tiga minggu kemudian aku ke kliniknya lagi. Kali ini aku dicek matanya oleh perawat di sana pakai sebuah alat (maaf nggak tahu apa namanya). Eh, ketahuan deh kalau salah satu tekanan di mataku tinggi.

Dapat wejangan lagi. Ditanya juga sih ada riwayat diabetes atau nggak. Intinya, aku harus menurunkan tekanan di mataku itu.

Nggak boleh tidur malam, jangan minum teh dan kopi, dan mengurangi asupan gula.. Itu larangan yang harus aku patuhi. Dan perbanyak makan buah.

Akhirnya, aku diet dengan mengganti konsumsi nasi dengan kentang atau roti gandum. Jam 10 malam sudah harus tidur dan aku berusaha untuk nggak minum teh atau kopi. Pokoknya, saat itu aku benar-benar memperbaiki pola hidupku.

Sebulan berlalu dan aku kembali untuk kontrol mata. Hasilnya, tekanan mataku sudah dalam kategori normal, meski benjolan di mataku masih ada. Aku tanya dong, apa perlu bolak-balik periksa lagi. Dan katanya sih nggak perlu. Asal nggak makin parah, benjolannya bisa hilang. Tapi, harus sabar.

Dari awal periksa memang sudah disuruh sabar. Jadi, dapat kusimpulkan kalau benjolannya akan lama hilangnya. Sampai sekarang, sebenarnya, masih ada. Hanya saja sudah kecil banget. Dilihat sekilas juga nggak kelihatan.

Mata Bengkak Karena Alergi

Dan sekarang, akhirnya aku tahu penyebab alergiku. Seafood. Aku pernah nggak sengaja makan udang dan efeknya di mata menjadi merah dan nggak nyaman. Selain seafood, aku berusaha mengurangi makan telur, cokelat, dan kacang. Khusus cokelat, makannya masih tergantung mood. Kadang sering juga dikonsumsi. Hehe.

Kejadian ini juga berefek pada keinginanku yang dulunya mau fokus di sektor kecantikan dengan banyak memberikan review kosmetik dan makeup tutorial, kini berganti ke fashion. Tentu, aku masih akan menuliskan tentang beauty. Tapi, aku nggak mau banyak coba-coba produk makeup, terutama untuk area mata.

Aku pun belajar untuk lebih fleksibel menetapkan keinginan. Jika jalan ini sulit dilalui, masih ada jalan lain yang bisa dilakukan. Yang penting, tetap optimis dan semangat!

10 Komentar

  • Leli

    Aku juga alergi udang, kalo aku reaksi alerginya ditelapak kaki. Gatel banget. Tapi gimana ya kulit telapak kaki kan tebel, jadi misal digaruk pun gak ngefek. Kalo udah kena alergi udang lebih baik tiduran, karena kalau dibuat jalan makin gremet2 gatelnya. Hahaa

    Eh kukiraa tadi awalnya benjol karena bintitan, ternyata karena alergi seafood ya. Yasudah sabar-sabar untuk melatih diri ga makan seafood lagi ya mbaaa. Semangaat. Semoga lekas sembuh total ^^

    • shimisunn

      Iya. Itu benjol karena alergi. Udah di confirm sama dua dokter mata juga. Hehe..
      Mungkin bagian mataku paling sensitif ya jadi kalo ada alergi yang kena banget di mata. Tapi kadang juga gatel-gatel sih di kulit. Gak mesti..
      Sebenernya sih jarang makan seafood dan dulu kalo makan ya gak ada masalah. Tapi gak taulah kalo ternyata ada potensi alergi yang terpendam. Haha 😀

  • Muyassaroh

    Ngilu juga lihatnya, Mbak. Saya juga ada alergi, tapi tidak setiap makan seafood alergi sy kambuh. Kecuali kondisi sedang nggak fit, kemudian maksa makan udang dll. Barulah biduran 3 hari 3 malam. Atau kalau terlalu dingin, atau terlalu panas udara, dermatitis pun kambuh. Serba salah juga sih kalau alergian. Obatnya hanya harus hindari aja pencetusnya dan berusaha hidup lebih sehat 🙂

    • shimisunn

      Betul mbak. Harus dihindari pencetusnya.
      Kayaknya aku juga gak semua seafood bikin alergi. Cuma memang jarang makan seafood dan gak gitu suka juga. Paling yang sering dimakan ya udang. Eh, ternyata alergi. Hehe.

  • Mba Tengu

    Nah, kalo tengu malah baru tau kalo ada alergi Telur. Tapi, kalau makan telur kebanyakan. Misal, seminggu full ini makan telur mulu. Efeknya malah ke bengkak di bibir atas. Ini tuh macem bibir kejepit pintu. Kata dokter masih ga parah alerginya. Jadi, diminimalkan aja konsumsi yang bikin alergi. Cuma, kalo ubah gaya hidup, masih rada susah aku, mba. Apalagi kalo mengurangi kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *