Lifestyle,  Personal

Mengemis Biaya Kuliah

Belakangan ini sedang viral pemberitaan tentang seorang lulusan SMA yang mencari donasi demi membiayai kuliahnya di luar negeri. Kisahnya terpampang di sebuah atau mungkin beberapa (maaf, aku nggak tahu pasti) situs penggalangan dana. Dan tentu, hal ini memunculkan bermacam-macam reaksi netizen yang sebagian besar heran akan kejadian ini.

Diceritakan orang ini berasal dari keluarga yang kurang berkecukupan ingin melanjutkan jenjang pendidikan selepas SMA. Sudah beberapa kali mendaftar di perguruan tinggi negeri, bahkan sampai mengambil gap year, masih tetap nggak diterima. Akhirnya, dia mencoba peruntungan lain dengan mencari universitas-universitas di luar negeri yang menawarkan biaya murah. Singkat cerita, dia diterima di sebuah universitas di Turki dan sekarang kesulitan ke sana karena tersandung masalah biaya.

Hmm.. Aku sampai nggak bisa ngomong apa-apa saking shock-nya setelah membaca kisah menggelikan ini. Aku memang nggak membuka langsung halaman situs crowdfunding yang bersangkutan karena buat apa? Toh, aku tetap akan bereaksi sama.

Menurutku, alasan apa pun yang mendasari jenis penggalangan dana seperti ini, nggak benar. Kuliah bukan kebutuhan primer yang bahkan mantan menteri kelautan kita saja nggak mengenyam pendidikan ini. Memang, di era sekarang dengan banyaknya tuntutan dalam pekerjaan, gelar sarjana dipandang cukup penting. Bahkan sangat penting mengingat banyaknya generasi muda yang berlomba-lomba mendapatkan gelar ini, terutama dari universitas bergengsi. Selain almamater yang bisa dibanggakan, lulusan dari universitas terkenal akan mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan. Semacam privilege yang aku pun nggak pernah merasakannya.

Jika tujuan utamanya adalah mencari ilmu, maka perguruan tinggi swasta pun sudah banyak yang berstatus bagus. Memang dari segi biaya akan lebih mahal. Tapi, masih lebih murah daripada harus memaksakan diri berkuliah di luar negeri, apalagi dengan biaya sendiri. Ada tiket pesawat yang harus dibeli, biaya pendidikan yang nggak murah, dan pastinya biaya hidup yang jauh berbeda dari Indonesia. Jika di sini uang lima ribu sudah bisa mengenyangkan perut mahasiswa, akankah di sana juga sama? Tentu saja nggak, kan?

Aku sih nggak melarang siapa pun untuk kuliah di luar negeri. Kalau memang mampu, ya silakan. Kalau nggak ya, lebih baik kuliah saja di sini walaupun harus di universitas swasta. Dan tolong, jangan gunakan penggalangan dana seperti di atas demi mendapatkan biaya kuliah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, contohnya kuliah sambil berjualan, bekerja sambilan di warung makan, atau menjadi driver ojek online. Yang penting, jangan mengemis!

Aku dulu juga kuliah sambil jualan online. Temanku ada yang menjadi content writer. Ada juga yang berjualan makanan di kelas atau bekerja sambilan di laundry. See? Mereka masih punya kesadaran diri untuk nggak meminta-minta karena mereka masih mampu bekerja.

Kalau memang sangat terkendala di biaya, lebih baik untuk fokus bekerja dulu. Kuliah kan bisa kapan saja. Nggak pandang umur. Aku saja masih berkeinginan untuk kuliah lagi, namun terkendala di skripsi yang malas aku lalui. Hehe.

Jangan karena gengsi melihat teman-teman seangkatan yang berkuliah, kalian jadi melakukan cara apa pun agar sama dengan mereka. Takutnya, jika penggalangan dana pertama ini berhasil, akan ada penerus lain yang menginginkan hal sama, malas berusaha, dan hanya mengandalkan donasi dari para netizen budiman. Jadi apa nanti generasi muda kita yang bermental pengemis ini?

Buat adek-adek yang ingin kuliah tapi terkendala biaya, nggak usah memaksakan diri. Lebih baik kalian bekerja dulu sambil menabung. Nggak usah memaksakan diri juga harus kuliah di perguruan tinggi negeri. Universitas swasta juga banyak yang bagus dan biasanya juga ada beasiswa yang ditawarkan. Jadi, jangan berkecil hati dan tetap semangat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *