Review Rumah Kertas by Carlos Maria Dominguez
Book,  Lifestyle

Review: Rumah Kertas by Carlos Maria Dominguez

Aku adalah penikmat buku. Tapi, ini merupakan pertama kalinya aku menulis review mengenai buku yang kubaca. Dan Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez menjadi yang pertama mendapatkan kesempatan ini.

Rumah Kertas memiliki judul asli La casa de papel dan diterbitkan di Uruguay. Waduh, mendengar nama negaranya saja sudah membuatku yakin jika aku belum pernah tahu tentang Carlos, apalagi karya-karyanya. Aku sendiri nggak tahu ada berapa banyak buku si penulis yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Sedikit ragu untuk mulai membaca, sebenarnya. Bukan karena meragukan karya si penulis, melainkan bukunya yang tipis. Hanya ada 76 halaman dalam versi terjemahan Indonesia. Dan aku adalah tipe yang suka novel tebal. Tujuannya, biar nggak cepat habis dibaca. Hehe.

Tetapi akhirnya, aku membacanya juga. Perlahan, aku mulai terhanyut pada untaian kata yang dituliskan Carlos di setiap halamannya.

Review Rumah Kertas by Carlos Maria Dominguez

Buku aneh dengan serpihan semen kering menjadi awal mula dari kisah buku ini. Penyelidikan dalam rangka mencari pengirimnya telah menguak kisah pecinta buku beserta keunikan dan kegilaannya.

“Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.”

Sebuah kutipan dalam novel ini, meskipun sedikit kasar, namun mewakili betapa gilanya para pecinta buku. Nggak semuanya setuju dengan kutipan tersebut. Ada yang bahkan nggak rela meninggalkan jejak karena saking cintanya pada buku.

Pendeskripsian yang diberikan penulisnya pun luar biasa. Detail dan penuh rasa seolah-olah aku melihat sendiri kegilaan mereka akan buku.

Buku mampu mengubah perilaku seseorang, menjadikannya berbeda dari ratusan penikmat buku di seluruh dunia. Sendiri dan tenggelam bersama koleksinya pun seolah menjadi hal lumrah. Namun ternyata, buku mampu mengubah jalan hidup seseorang.

Ketika seorang kolektor dengan puluhan ribu buku koleksinya kebingungan mencari tempat tinggal baru setelah api hampir melahap buku-bukunya, ia memutuskan membawa semua koleksinya pergi bersamanya. Menyepi dari keramaian kota ditemani koleksi bukunya. Gilanya, ia menjadikan buku-buku tersebut sebagai pondasi rumahnya.

Kalian nggak salah baca. Aku saja sempat shock saat membacanya. Membayangkan batu bata tergantikan oleh buku, hati ini rasanya ingin ikut bergolak. Malang sekali nasib buku-buku itu.

Namun, kisah perjalanan tokoh ‘Aku’ nggak hanya tentang itu. Lebih penting adalah bagaimana perjalanannya mampu mengubahnya. Apakah ‘Aku’ akan mengikuti kegilaan pecinta buku yang ditemuinya? Kisahnya bisa kalian baca sendiri di buku ini ya. Nggak mau spoiler dong. Hehe.

Review Rumah Kertas by Carlos Maria Dominguez

Tapi serius, buku ini benar-benar bagus. Nggak nyangka bisa begitu hebatnya efek buku bagi seseorang. Dan ribuan buku..?? Koleksiku saja nggak sampai seratus. Buku ini juga sebenarnya modal pinjam. Tentu, sudah izin pemiliknya buat menulis review sekaligus ambil foto. Wkwk.

Berhubung bukunya tipis, jadi cocok dijadikan bacaan dalam perjalanan. Tapi, pastikan dulu ya kalian nggak gampang mabuk.

Intinya, novel ini worth it banget buat dibaca. Ringan tapi dalam. Hehe.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *